October 19, 2026

Selayang Pandang

Spread the love

Sinergi Keagungan Adat dan Pendidikan: Kunjungan Rombongan Radja Negeri Daya Tandai Pengukuhan Inovasi KALAM PRABU dan Situs Cagar Budaya

GELAP DI KARBALA DAN MULIA AHLUL BAIT

Hadirin yang mulia, Mari kita putar jarum waktu ke abad ke-7 Masehi, 10 Oktober 680 M. 10 Muharam 61 H. di padang pasir Karbala yang membara.

Di sanalah, darah Sayyiduna Husain bin Ali bin Abi Thalib—cucu kesayangan Baginda Rasulullah SAW—tercurah di atas tanah terik. Tragedi itu bukan sekadar pertempuran politik, melainkan ujian berat bagi Dzurriyah Rasul. Karbala menjadi Saksi betapa sucinya keturunan Nabawi mempertahankan kebenaran dan keadilan di atas bumi Allah.

Namun, Allah Maha Berkehendak. Cahaya kenabian tidak boleh padam di Padang Karbala! Keturunan Sultan Salatin Ahlul Bait, demi menyelamatkan akidah, keselamatan syariat, dan melestarikan garis keturunan mulia, harus mengarungi perantauan panjang (hijrah). Mereka berlayar menerjang gelombang Samudra Hindia, membawa pelita Islam, ilmu tasawuf, serta akhlakul karimah ke belahan dunia timur yang kelak dikenal sebagai Serambi Mekkah: Tanah Aceh .

BERDIRINYA KERAJAAN NEGERI DAYA (LAMNO)

Hadirin sekalian, Di bawah pemeliharaan dan pemeliharaan Allah SWT, kapal-kapal para pangeran Ahlul Bait dan ulama-ulama suci mendarat di pesisir barat Aceh. Kedatangan mereka disambut hangat oleh penduduk tempatan karena keindahan akhlak, kealiman, dan kearifan kepemimpinan mereka.

Dari situ, terbentuk satu tatanan pemerintahan yang kokoh dan berwibawa 10 Februari 1480 M 10 Zulhijjah 885 H: Kerajaan Negeri Daya di kawasan Lamno (sekarang Aceh Jaya). Di bawah panji Negeri Daya, hukum Islam ditegakkan, adat dipangku, syariat dijiwai.

Sultan Salatin Ahlul Bait yang memimpin Daya tidak memerintah dengan pedang kekuasaan semata, melainkan dengan kekuatan hati dan keadilan. Keturunan Raja Daya membawa berkah bagi wilayah pesisir barat Aceh. Pelabuhan-pelabuhan dibuka, perdagangan antarnegara seperti Arab, India, dan Tiongkok berkembang pesat. Namun yang paling utama, Kerajaan Negeri Daya menjadi benteng moral dan keagamaan yang menyatukan rakyat dalam bingkai tauhid.