Menenun Tasbih di Bumi Serambi Mekkah: Gema Muzakarah Ulama Sufi Internasional Ke-II Menghidupkan Kembali Denyut Peradaban Aceh
BANDA ACEH — Di bawah naungan langit Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, angin lembut yang membawa aroma rindu seakan berbisik menembus abad. Di tempat ini, ribuan hati berhimpun dalam satu debar yang khusyuk, menyatu dalam gelaran akbar Muzakarah Ulama Sufi Tauhid Tasawuf Internasional ke-II. Suasana ini bukan sekadar pertemuan ilmiah para pemuka agama, melainkan sebuah simfoni spiritual yang menyentuh relung jiwa paling dalam, membangkitkan kesadaran bahwa tauhid dan tasawuf adalah napas hidup yang menyambungkan manusia dengan Tuhannya, bahkan kegiatan ini menyambungkan masa lalu yang agung dengan masa depan generasi muda.
Kegiatan yang sarat makna ini mendapat sambutan hangat serta apresiasi agung dari para pemangku adat dan kesultanan nusantara. DYMM Paduka Seri Baginda Sultan Saifullah Alaiddin Riayat Syah, Raja Negeri Daya sekaligus Pemangku Kesultanan Aceh Darussalam, melalui Wazir Katibul Muluknya, Dato’ Dr. (C) Ridwan, S.Pd.I., MA., M.Pd., menyampaikan tahniah dan dukungan penuh. Baginda menyatakan rasa bangga yang mendalam kepada Abuya Amran selaku tokoh kunci inisiator utama, jajaran panitia, serta seluruh peserta yang hadir dari berbagai penjuru daerah dan mancanegara.
Kehadiran para ulama sufi ini dirasakan bukan sekadar acara seremonial, melainkan sebuah momentum batiniah yang mengalirkan kesejukan di tengah hiruk-pikuk dunia modern.
Merajut Benang Sejarah Para Wali dan Ulama Besar
Gema muzakarah ini dirasakan oleh banyak pihak bagaikan sebuah ketukan lembut yang membangunkan sejarah besar peradaban Islam di bumi Aceh. Dato’ Kiam Radja TG. Prof. DR (HC) Fekri Juliansyah, Ph.D., selaku Ketua Lembaga Dzurriyat Raja Sultan Se-Nusantara, mengungkapkan kekagumannya.
“Ini bagaikan mengulang menulis sejarah kemajuan Islam berkembang di Bumi Aceh dengan sederetan tokoh besar, mulai dari Po Teumerehom sampai Syiah Kuala dan Hamzah Fansuri. Meskipun mereka berbeda abad, namun kiprah mereka terasa bagi masyarakat sampai sekarang bagai satu kesatuan dalam memajukan pembinaan umat,” tutur Dato’ Fekri dengan penuh penghayatan.
Pernyataan tersebut merefleksikan bagaimana mata rantai keilmuan dan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) di Aceh tidak pernah putus. Para ulama terdahulu meletakkan fondasi tauhid yang kokoh, dan hari ini, para ulama sufi kontemporer kembali merawat warisan tersebut agar tidak lekang oleh zaman.
Haru Biru dan Titik Balik Generasi Gen-Z
Kesan mendalam turut dirasakan oleh YAM Teuku Amri dari Kerajaan Negeri Kuala Batu. Sosok bangsawan yang dalam kesehariannya juga mendedikasikan diri sebagai guru pelatihan pembibitan padi ini tak kuasa menahan rasa harunya. Bagi beliau, merawat padi di sawah dan merawat tauhid di hati umat memiliki esensi yang sama: membutuhkan kesabaran, ketulusan, dan benih-benih kebaikan yang murni.
“Kami sangat terinspirasi dengan kiprah tauhid tasawuf ini. Ini bagaikan menulis kembali sejarah kemajuan Islam, menghubungkan sejarah, budaya, adat, syariat dengan zaman sekarang dan generasi Gen-Z,” ucap Teuku Amri dengan suara bergetar menahan haru.
Hal senada juga disuarakan oleh YAM Teuku Nasruddin dari Kerajaan Negeri Tanah Nata, yang wilayah kepemuliannya membentang hingga ke Singkil. Dengan mata berkaca-kaca, beliau menyampaikan betapa pentingnya bimbingan spiritual ini bagi masyarakat di akar rumput.
“Kami sangat terinspirasi. Wilayah kami membutuhkan bimbingan umat untuk bertauhid dan ber-tasawuf dengan benar. Kami akan sebarkan semangat dan ‘halo-halo’ kebaikan ini ke seluruh pelosok wilayah kami,” ujarnya penuh tekad.
Sinergi Kearifan Lokal dan Akhlak Mulia
Wazir Katibul Muluk Kerajaan Negeri Daya menambahkan bahwa momentum muzakarah ini sejalan dengan langkah nyata yang tengah mereka bangun di daerah. Mereka baru saja menggerakkan program KALAM PRABU (Kearifan Lokal Akhlak Mulia Pendidikan Religius Anak Berbudaya) yang difokuskan langsung ke sekolah-sekolah. Tujuannya sederhana namun mulia: agar generasi muda memiliki rasa memiliki (seve of belonging) terhadap amanah syariat, adat, dan budaya.
Ketika generasi muda Aceh dan Nusantara dihadapkan pada arus globalisasi yang kencang, para panitia muzakarah justru menjawabnya dengan menghadirkan pencerahan akbar para ulama sufi internasional. Perpaduan ini menjadi jawaban atas kerinduan batin umat terhadap pembinaan akhlak yang hakiki.
Terlebih, perhelatan akbar ini bertepatan dengan semarak bulan Maulid Nabi Muhammad SAW—masa di mana Sang Baginda Rasul diutus ke muka bumi untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.
Dari tanah Serambi Mekkah, doa dan harapan dipanjatkan bersama. Semoga gelaran Muzakarah Ulama Sufi Internasional ini tidak berhenti pada edisi kedua saja, melainkan terus berlanjut ke jilid III, IV, dan seterusnya sepanjang masa, merawat silaturrahmi ruhaniah para pewaris para nabi, dan menyinari dunia dengan cinta kasih ridha rabbi serta kedamaian yang abadi.