October 19, 2026

Gema Pasai Memanggil Nusantara: Tahniah & Refleksi 8 Abad Peradaban Aceh Utara dari Lensa Kerajaan Negeri Daya

0
Spread the love

LHOKSUKON — Menjelang perhelatan agung Piasan Pase 2026 dalam rangka Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-800 Kabupaten Aceh Utara, ucapan selamat dan penghargaan yang mendalam mengalir dari tampuk pimpinan pemangku adat dan titah kesultanan.

Penghormatan dan Warkat Tahniah disampaikan secara resmi oleh Radja Negeri Daya Pemangku Kesultanan Aceh Darussalam, DYMM Paduka Seri Baginda Sultan Saifullah Alaiddin Riayat Syah, bersama Ketua Lembaga Dzurriyat Raja Sultan Se-Nusantara, Dato’ Kiam Radja TG. Prof. DR (HC) Fekri Juliansyah, Ph.D, melalui Wazir Katibul Muluk Kerajaan Negeri Daya, Dato’ Dr. (C) Ridwan, S.Pd.I., MA, M.Pd.

Warkat Tahniah & Pesan Kebangkitan

Dalam titah yang disampaikan Wazir Katibul Muluk, Dato’ Dr. (C) Ridwan, pimpinan majelis menegaskan bahwa 800 tahun Aceh Utara (Samudera Pasai) bukanlah sekadar perayaan, melainkan simbol kejayaan peradaban Islam dan maritim yang mencerminkan pengaruhnya ke seluruh pelosok Nusantara.

“Delapan abad Samudera Pasai adalah fondasi sejarah yang membentuk identitas bangsa. Dari tanah Pase inilah panji Islam, diplomasi peradaban, dan tradisi bahari menyatu dengan pelbagai kesultanan di Nusantara. Kami mendoakan semoga Aceh Utara terus bangkit, menjaga nilai adat, serta mengukuhkan syariat demi kesejahteraan rakyatnya,” ujar Dato’ Dr. (C) Ridwan menyuarakan pesan DYMM Sultan Saifullah Alaiddin Riayat Syah dan Prof. Fekri Juliansyah.

Refleksi Peradaban: Dari Makam Wali Hingga Gema 800 Rapa’i Pase

Dari sudut pandang adat dan kebudayaan antar-kesultanan Nusantara, rangkaian perayaan Piasan Pase 2026 yang berlangsung selama 7 hari 7 malam (6–13 September 2026) di Lapangan Upacara Kantor Bupati Aceh Utara, Landing, Lhoksukon, dinilai memiliki kedalaman spiritual dan edukatif yang sangat tinggi.

  • Akar Spiritual & Penghormatan Sejarah: Awalan pesta rakyat yang diawali dengan ziarah ke makam pendiri peradaban, Sultan Malik Al-Shaleh dan Ratu Nahrasyiah, disambut hangat oleh Lembaga Dzurriyat Kesultanan Nusantara sebagai langkah takzim yang patut diteladani oleh daerah lain di Indonesia.

  • Resonansi Kebudayaan Nusantara: Gemuruh kolosal 800 penampil Rapa’i Pase serta kehadiran Menteri Kebudayaan RI dipandang sebagai momentum menggemakan kembali warisan takbenda Aceh ke panggung dunia.

  • Ketahanan Pangan & Tradisi Keagamaan: Festival Kolaborasi Kuah Kari Pasee di 27 kecamatan, Santunan 800 Anak Yatim, Penanaman 800 Pohon, hingga Pembacaan Kitab Kuning menunjukkan kejayaan masa lalu yang ditransformasikan menjadi aksi sosial nyata bagi generasi mendatang.

Menatap Masa Depan Nusantara

Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, SE, MM (Ayah Wa), yang menegaskan bahwa “800 tahun adalah perjalanan panjang sebuah peradaban yang meninggalkan jejak penting,” mendapat dukungan penuh dari Kerajaan Negeri Daya dan Lembaga Dzurriyat Raja Sultan Se-Nusantara.

Wazir Katibul Muluk menutup warkat berita ini dengan pesan bahwa semangat kebangkitan Aceh Utara dari bumi Pasai hendaknya menjadi pemantik inspirasi bagi seluruh pemangku adat dan masyarakat adat se-Nusantara untuk terus menjaga warisan leluhur demi masa depan bangsa yang berdaulat dan berbudaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *